Rp 33,100,000 / Orang
Rp 37,500,000 / Orang
Rp 29,900,000 / Orang
Rp 37,500,000 / Orang
Rp 33,100,000 / Orang
Rp 37,500,000 / Orang
Rp 32,700,000 / Orang
Rp 39,300,000 / Orang
Rp 32,700,000 / Orang
Rp 39,500,000 / Orang
Rp 30,200,000 / Orang
Rp 30,200,000 / Orang
Rp 30,200,000 / Orang
Rp 33,800,000 / Orang
Rp 26,300,000 / Orang
Rp 33,800,000 / Orang
Rp 28,900,000 / Orang
Aini
Wini Purwanti
SRI INTAN
Setiadi
Indonesia Duduki Posisi Kedua Pengirim Jamaah Umra...
JAKARTA–Pergerakan jamaah umrah dari berbagai negara di awal musim 1448H menunjukan lonjakan yang cukup signifikan. Betapa tidak, hingga 29 Muharram 1448H, pemerintah Arab Saudi mencatat sebanyak 931.500 jamaah telah memasuki Tanah Suci sejak dimulainya awal musim umrah pada 15 Dzulhijjah 1447H. Angka tersebut meningkat 22,5 persen dibandingkan periode yang sama pada awal musim umrah tahun sebelumnya.
Seperti dirilis Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi dalam postingannya di akun resmi X pada Sabtu (18/7/2026) menunjukkan tren positif dalam penyelenggaraan umrah di tengah memanasnya kembali eskalasi Timur Tengah.
Dalam data itu disebutkan juga Pakistan sebagai negara pengirim jamaah umrah terbanyak sekitar 200.000 jamaah. Sementara Indonesia masih berada di posisi kedua dengan jumlah sebanyak 170.000 jamaah umrah. Kemudian di posisi ketiga ada Irak yang mengirimkan sebanyak 130.000 jamaah.
Setidaknya, dengan posisi Indonesia sebagai negara kedua terbanyak pengirim jamaah umrah di awal musim ini menjadi indikator masih tingginya minat masyarakat Indonesia untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci. (hay)
"Pedagang" dan Tempat Suci: Sebuah bisikan Hati
Kita menghabiskan hari-hari kita sebagai "pedagang" yang gelisah di pasar yang ramai dan berisik, menukar waktu tenang dalam hidup kita dengan beban berat yang kita kira emas. Kita membangun tempat nyaman, mengisi rak-rak kita dengan penghargaan duniawi, dan membungkus diri kita dengan pakaian kesuksesan. Namun—ketika hiruk pikuk siang hari memudar dan malam tiba, hembusan angin dingin yang halus berhembus melalui lorong-lorong dada.
Itu adalah rasa sakit yang mendalam karena kehilangan bagian yang hilang. Kita menyadari bahwa tangan kita penuh, tetapi jiwa kita benar-benar kering.
Datanglah fajar ketika pengembaraan harus berakhir. Jiwa, lelah membawa dunia, mendengar gema yang jauh dan familiar memanggilnya kembali ke halaman penciptaannya. Kita menggenggam tangan orang-orang yang kita cintai, melangkah keluar dari bayang-bayang kota-kota menjulang yang kita bangun, dan berjalan menuju cahaya yang telah menyala sejak awal waktu.
Perhatikan para pensyiar Baitullah. Mereka tidak menjauh dari kehidupan; mereka berjalan menuju esensi kehidupan itu sendiri. Mereka telah menanggalkan baju besi dunia modern yang berat dan rumit untuk mengenakan kain penyerahan diri yang sederhana dan tanpa cela. Menara-menara bercahaya di depan bukanlah sekadar tujuan di peta; itu adalah perapian yang menyambut dari Rumah yang kita lupakan bahwa kita adalah miliknya.
Beberapa perjalanan dirancang untuk menunjukkan cakrawala baru. Perjalanan ini dirancang untuk mengembalikan hatimu sendiri.
Pergilah dan temukan apa yang telah hilang. Karena perjalanan suci tidak hanya menyegarkan tubuh—tetapi juga menebus jiwa.
- gLg -
Arab Saudi Luncurkan Visa Khusus, Jamaah Umrah Bis...
REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH -- Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi memperkenalkan visa umrah masuk ganda (multiple-entry). Dengan visa ini, jamaah umrah dimungkinkan masuk ke Arab Saudi berkali-kali dalam jangka waktu satu tahun, dengan total masa tinggal di sana hingga 90 hari.
Visa ini berlaku selama 365 hari sejak tanggal diterbitkan dan memungkinkan jamaah melakukan beberapa kali kunjungan selama masa berlakunya. Total masa tinggal 90 hari dihitung secara kumulatif berdasarkan jumlah hari yang dihabiskan di Arab Saudi pada setiap kunjungan.
Purbaya Buka Opsi Pangkas Anggaran Pertahanan Jika Fiskal Tertekan Mendagri Tito Karnavian Prihatin, Ingatkan Kepala Daerah Jaga Integritas Pasca OTT Bupati Lombok Barat Wamentan: B50 Percepat Swasembada Energi RI Sesuai Visi Prabowo
Namun, kementerian menegaskan bahwa visa umrah multiple-entry tidak dapat digunakan untuk memasuki Arab Saudi selama musim haji. Selain itu, durasi paket layanan umrah yang dipilih tidak boleh melebihi sisa masa tinggal yang masih tersedia berdasarkan visa tersebut.
Untuk memperoleh visa ini, jamaah wajib membeli paket layanan dari salah satu penyedia layanan yang telah terakreditasi dan terdaftar di platform Nusuk untuk setiap kunjungan.
Sebelum setiap kali masuk ke Arab Saudi, jamaah juga diwajibkan memperoleh izin umrah melalui aplikasi Nusuk. Tanggal izin umrah harus sesuai dengan paket layanan yang telah disetujui, serta memenuhi seluruh persyaratan perjalanan dan ketentuan masuk yang berlaku.
Kementerian menambahkan bahwa visa tersebut akan secara otomatis dinonaktifkan setiap kali jamaah meninggalkan Arab Saudi. Dan, akan diaktifkan kembali untuk kunjungan berikutnya setelah seluruh persyaratan sesuai regulasi dipenuhi.
Sisa masa tinggal yang masih tersedia akan secara otomatis dibawa ke kunjungan berikutnya dan dapat digunakan selama visa tersebut masih berlaku.
Sumber:
Saudi Gazette
Indonesia Jadi Penyumbang Jamaah Umrah Terbesar Ke...
HIMPUHNEWS - Musim Umrah 1448 Hijriah dibuka dengan lonjakan jumlah jamaah dari berbagai negara. Pemerintah Arab Saudi mencatat sebanyak 931.500 jamaah telah memasuki Kerajaan menggunakan visa umrah sejak 15 Dzulhijjah hingga akhir Muharram. Angka tersebut meningkat 22,5 persen dibandingkan periode yang sama pada musim umrah sebelumnya.
Data yang dirilis Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi bersama Pilgrim Experience Program itu menunjukkan tren positif penyelenggaraan umrah sekaligus menjadi salah satu indikator berkembangnya sektor pelayanan ibadah yang didorong melalui implementasi Saudi Vision 2030.
Selain peningkatan jumlah pemegang visa umrah, Arab Saudi juga mencatat lebih dari 1,27 juta jamaah dari luar negeri tiba di negara tersebut sepanjang periode yang sama.
Dalam daftar negara asal jamaah, Pakistan menjadi penyumbang terbesar dengan sekitar 200.000 jamaah.
Indonesia berada di peringkat kedua dengan sekitar 170.000 jamaah, disusul Irak di posisi ketiga yang mengirimkan sekitar 130.000 jamaah.
Posisi Indonesia sebagai salah satu penyumbang jamaah terbesar menunjukkan tingginya minat masyarakat Indonesia untuk menunaikan ibadah umrah serta memperkuat hubungan keagamaan antara Indonesia dan Arab Saudi.
75 Persen Jamaah Datang Melalui Jalur Udara
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga melaporkan mayoritas jamaah umrah dari luar negeri memasuki Arab Saudi melalui jalur udara.
Sebanyak 75 persen jamaah menggunakan penerbangan internasional, sedangkan 25 persen lainnya masuk melalui jalur darat dan pelabuhan laut.
Dominasi transportasi udara tersebut menunjukkan semakin besarnya peran konektivitas penerbangan internasional dalam mendukung kelancaran perjalanan ibadah umrah.
Digitalisasi Jadi Penopang Lonjakan Jamaah
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menilai peningkatan jumlah jamaah turut didukung penguatan layanan digital dan operasional yang terus dikembangkan.
Berbagai inovasi dilakukan untuk mempermudah proses perjalanan jamaah, mulai dari tahap perencanaan keberangkatan, pengurusan layanan, hingga kepulangan ke negara asal.
Selain meningkatkan efisiensi operasional, pengembangan layanan tersebut juga bertujuan memberikan pengalaman ibadah yang lebih nyaman, aman, dan berkualitas bagi jamaah umrah dari berbagai negara.
Upaya tersebut merupakan bagian dari implementasi Saudi Vision 2030 yang menempatkan pelayanan kepada tamu Allah sebagai salah satu prioritas utama pemer
intah Arab Saudi.
Bagikan :
Memahami Perbedaan Pembiayaan Haji Reguler dan Haj...
Dalam beberapa hari terakhir, pembahasan mengenai usulan skema pembiayaan Haji Reguler Tahun 2027 menjadi sorotan publik. Salah satu isu yang banyak diperbincangkan adalah komposisi pembiayaan yang diberitakan sekitar 60% berasal dari nilai manfaat pengelolaan dana haji dan 40% dibayarkan langsung oleh jemaah.
Seiring berkembangnya diskusi, muncul pula berbagai pandangan mengenai aspek keadilan dalam penggunaan nilai manfaat, termasuk bagi calon jemaah yang masih berada dalam antrean keberangkatan. Perlu dipahami bahwa pembahasan ini masih berlangsung, dan keputusan resmi mengenai BPIH Tahun 2027 akan ditetapkan melalui mekanisme Pemerintah bersama DPR.
Di tengah berbagai opini yang berkembang, ada satu hal yang penting dipahami: mekanisme pembiayaan Haji Reguler dan Haji Khusus memang dirancang berbeda. Memahami perbedaan ini akan membantu masyarakat melihat setiap informasi secara lebih utuh dan proporsional.
Haji Reguler: Nilai Manfaat sebagai Bagian dari Pembiayaan
Pada skema Haji Reguler, setoran awal calon jemaah dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Dana tersebut menghasilkan nilai manfaat yang menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan ibadah haji.
Saat ini, mekanisme pemanfaatan nilai manfaat tersebut menjadi bagian dari pembahasan publik, termasuk pandangan dari berbagai pihak mengenai prinsip keadilan bagi calon jemaah yang masih menunggu giliran berangkat.
Haji Khusus: Nilai Manfaat Menjadi Hak Jemaah
Skema Haji Khusus memiliki mekanisme yang berbeda. Calon jemaah menyetorkan dana awal sebesar USD 5.000, yang kemudian dikelola oleh BPKH selama masa tunggu.
Saat memasuki tahun keberangkatan, jemaah memperoleh nilai manfaat sesuai ketentuan yang berlaku. Selanjutnya, jemaah memilih paket haji yang ditawarkan oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).
Total dana yang dimiliki jemaah merupakan akumulasi dari:
Setoran awal
Setoran pelunasan
Nilai manfaat hasil pengelolaan dana
Jumlah tersebut kemudian diperhitungkan dengan harga paket yang dipilih. Jika masih terdapat selisih, maka kekurangannya dibayarkan oleh jemaah pada saat pelunasan.
Ilustrasi sederhana:
Setoran awal: USD 5.000
Setoran pelunasan: USD 4.000
Nilai manfaat: USD 645
Total dana yang dimiliki jemaah menjadi USD 9.645.
Apabila paket haji yang dipilih bernilai USD 16.500, maka sisa pembayaran sebesar USD 6.855 dilunasi oleh jemaah.
Dengan demikian, pada Haji Khusus, nilai manfaat merupakan bagian dari dana milik jemaah yang diperhitungkan dalam pembiayaan paket haji yang dipilih.
Mengapa Pemahaman Ini Penting?
Memahami perbedaan kedua skema tersebut membantu kita menempatkan setiap informasi dalam konteks yang tepat. Diskusi mengenai pembiayaan Haji Reguler memiliki ruang kebijakan tersendiri, sementara Haji Khusus berjalan dengan mekanisme yang berbeda sesuai regulasi yang berlaku.
Semakin baik literasi masyarakat mengenai pembiayaan haji, semakin objektif pula kita dapat menyikapi berbagai informasi dan dinamika yang berkembang.
Pada akhirnya, tujuan kita tetap sama: mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji yang transparan, berkelanjutan, dan berorientasi pada pelayanan terbaik bagi seluruh jemaah Indonesia.
Catatan: Tulisan ini bertujuan memberikan edukasi mengenai perbedaan mekanisme pembiayaan Haji Reguler dan Haji Khusus. Pembahasan mengenai usulan pembiayaan Haji Reguler Tahun 2027 mengacu pada informasi yang sedang berkembang di ruang publik. Keputusan resmi mengenai BPIH Tahun 2027 masih menunggu pembahasan dan penetapan oleh Pemerintah bersama DPR.
Kemenhaj Saudi Imbau Jamaah Gunakan Panduan Umrah ...
JAKARTA -- Kementerian Haji dan Umrah mengimbau masyarakat yang ingin menunaikan ibadah umrah dan berziarah ke Masjid Nabawi untuk memanfaatkan "Panduan Umrah dan Ziarah" yang tersedia di situs resminya.
Panduan tersebut berisi informasi edukatif dan petunjuk pelaksanaan ibadah. Ini guna memudahkan jemaah menjalankan rangkaian ibadah dengan nyaman, tenang, dan lebih siap menyambut perjalanan spiritual mereka.
Tersedia dalam 16 bahasa, panduan ini menyajikan informasi lengkap yang mencakup seluruh tahapan perjalanan umrah dan ziarah Mulai dari persiapan sebelum keberangkatan, prosedur visa, persyaratan masuk ke Arab Saudi, tata cara berihram, pelaksanaan ibadah umrah, transportasi, tata cara berziarah ke Masjid Nabawi, hingga prosedur kepulangan.
Panduan disusun secara kronologis sehingga dapat mendampingi jamaah di setiap tahap perjalanan. Ini bisa memudahkan mereka mengakses informasi yang sesuai dengan kebutuhan pada setiap fase.
Selain itu, panduan ini dilengkapi peta interaktif, tautan ke layanan digital, serta panduan visual untuk membantu jamaah melaksanakan ibadah sesuai sunnah sekaligus memanfaatkan berbagai layanan yang tersedia.
Di dalamnya juga terdapat penjelasan rinci mengenai miqat, adab berihram, tata cara tawaf dan sa'i, pelaksanaan salat di Dua Masjid Suci, serta adab berziarah ke tempat-tempat suci. Panduan ini juga memuat petunjuk teknis, pedoman kesehatan dan keselamatan, nomor kontak darurat, serta berbagai layanan digital yang dibutuhkan selama perjalanan.
Selain itu, panduan tersebut menyediakan tautan langsung ke berbagai platform dan layanan elektronik yang memudahkan jemaah memperoleh informasi resmi terbaru.
Kementerian menjelaskan bahwa "Panduan Umrah dan Ziarah" merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran jamaah, mendorong kepatuhan terhadap peraturan, serta membantu para jamaah umrah dan peziarah melaksanakan ibadah dengan mudah, aman, dan penuh ketenangan.
Inisiatif ini juga mencerminkan komitmen kementerian dalam meningkatkan kualitas layanan bagi para tamu Allah.
Kementerian mengundang masyarakat yang ingin mengakses panduan tersebut untuk mengunjungi halaman resminya di:
Sumber dari :
https://haj.gov.sa/en/Awareness-Center/Awareness-Guides/Umra
Museum Al-Qur'an di Makkah Tampilkan Cara Penulisa...
HIMPUHNEWS – Arab Saudi menghadirkan pengalaman baru bagi jemaah haji, umrah, dan wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah Al-Qur'an melalui Museum Al-Qur'an di Distrik Budaya Hira, Makkah. Museum ini mengajak pengunjung menelusuri perjalanan turunnya wahyu, proses pencatatan ayat-ayat Al-Qur'an pada masa Rasulullah SAW, hingga penyusunannya menjadi satu mushaf.
Mengutip Arab News, Selasa (14/7/2026), museum tersebut memadukan koleksi bersejarah dengan teknologi interaktif untuk menggambarkan bagaimana Al-Qur'an dijaga keasliannya sejak pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Salah satu koleksi utama yang ditampilkan adalah replika berbagai media yang digunakan para sahabat untuk menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an ketika wahyu masih turun.
Sebelum Al-Qur'an dihimpun menjadi satu mushaf, ayat-ayat ditulis di berbagai media yang tersedia pada masa itu, seperti perkamen kulit, daun palem, kayu, batu, hingga tulang hewan, termasuk tulang belikat dan tulang rusuk.
Melalui koleksi tersebut, pengunjung dapat melihat gambaran kondisi masyarakat Arab pada masa awal Islam sekaligus memahami bagaimana para sahabat berupaya menjaga setiap ayat yang diturunkan.
Museum juga melengkapi setiap koleksi dengan penjelasan ilmiah dan presentasi interaktif yang menjelaskan fungsi masing-masing media penulisan serta proses pencatatan wahyu.
Menelusuri Sejarah Turunnya Wahyu
Berdasarkan informasi dari Visit Saudi, Museum Al-Qur'an tidak hanya memamerkan benda-benda bersejarah, tetapi juga menyajikan perjalanan Al-Qur'an sejak wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Melalui ruang pameran modern, pengunjung diajak memahami proses turunnya wahyu, pencatatan oleh para sahabat, hingga penyusunan Al-Qur'an menjadi satu mushaf pada masa para khalifah.
Seluruh materi disampaikan melalui teknologi digital, multimedia, dan konten ilmiah sehingga dapat dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga jemaah haji dan umrah.
Salah satu atraksi yang menjadi perhatian pengunjung adalah simulasi digital yang menggambarkan momen turunnya wahyu pertama di Gua Hira.
Teknologi visual tersebut menghadirkan ilustrasi sejarah turunnya Surah Al-'Alaq sebagai wahyu pertama yang menandai awal diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.
Koleksi Manuskrip dari Berbagai Periode Sejarah
Museum Al-Qur'an juga menyimpan berbagai manuskrip Al-Qur'an dari sejumlah periode sejarah Islam.
Koleksi mushaf kuno tersebut memperlihatkan perkembangan seni penulisan Al-Qur'an dari masa ke masa, mulai dari ragam kaligrafi, teknik penyalinan, hingga ornamen yang menghiasi setiap halaman.
Selain manuskrip, museum menghadirkan paviliun budaya yang menjelaskan perkembangan ilmu-ilmu Al-Qur'an, sejarah penyebarannya, serta pengaruh kitab suci tersebut terhadap peradaban dunia.
Museum Al-Qur'an merupakan salah satu destinasi utama di Distrik Budaya Hira yang berada di kaki Gunung Hira, Makkah.
Kawasan ini dikembangkan sebagai destinasi budaya dan wisata religi yang menghadirkan pengalaman edukatif mengenai sejarah Islam. Lokasinya berada di dekat jalur utama yang menghubungkan Kota Makkah dan Taif sehingga mudah diakses oleh jemaah maupun wisatawan.
Distrik Budaya Hira berada di bawah pengawasan Komisi Kerajaan untuk Makkah Al-Mukarramah dan Tempat-Tempat Suci.
Selain Museum Al-Qur'an, kawasan ini juga dilengkapi pusat informasi pengunjung serta Galeri Wahyu yang mengisahkan perjalanan turunnya wahyu kepada para nabi hingga wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW.
Telah Dikunjungi Lebih dari 4 Juta Orang
Popularitas Distrik Budaya Hira terus meningkat. Berdasarkan data tahun 2025 yang dirilis Hira District, kawasan tersebut telah menerima lebih dari 4 juta pengunjung dari 132 negara.
Pengembangan Museum Al-Qur'an dan Distrik Budaya Hira menjadi bagian dari implementasi Visi Arab Saudi 2030yang bertujuan memperkuat sektor budaya, pariwisata, serta pelestarian warisan Islam.
Melalui museum ini, Arab Saudi menghadirkan pusat pembelajaran yang memungkinkan pengunjung memahami sejarah turunnya Al-Qur'an, proses penulisannya, hingga upaya para sahabat dan generasi setelahnya dalam menjaga keaslian kitab suci umat Islam.